CARI DISINI:

Minggu, 07 Februari 2010

Bagaimana Tsunami Terjadi?

-----
Tsunami, sebuah istilah yang beberapa saat lalu di Indonesia menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan saat terjadinya Tsunami dahsyat di Aceh 26 Desember 2004 jam 7.58 minggu pagi. Kejadian yang sangat mengguncang dunia, karena terjadi hampir di pesisir Asia, mulai sumatera, Thailand, India, Srilangka, Malaysia, Singapura bahkan sampai Afrika. Tsunami tersebut diawali oleh sebuah gempa berkekuatan 9.3 Scala Richter dan merupakan gempa bumi terbesar dalam 40 tahun sejarah gempa bumi di wilayah Asia.

Apakah tsunami itu? Apa penyebabnya? Apakah bisa di deteksi?. Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang artinya secara harafiah berarti 'ombak besar di pelabuhan', Tsunami sendiri bisa juga disebut sebagai sebuah gelombang yang tercipta akibat adanya gempa bumi ( tektonik maupun vulkanic) ataupun tumbukan meteor yang terjadi di lautan. Ombak pasang ini nyaris tidak dirasakan bagi orang orang yang mungkin kebetulan berlayar di tengah lautan, namun efeknya akan sangat terasa di pesisir karena ketinggian gelombangnya akan bertambah. 90% tsunami terjadi akibat gempa laut (tektonik bawah laut) namun bisa saja terjadi oleh gempa bumi vulkanis akibat meletusnya gunung (yang terletak di tengah laut) contohnya letusan Krakatau di selat Sunda. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam

Syarat terjadinya tsunami akibat gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km), gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter, gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun
Di wilayah Asia tenggara, beberapa negara yang sangat potensial terjadi tsunami seperti Jepang yang sudah melakukan usaha pencegahan jatuhnya korban jiwa akibat tsunami dengan cara memasang Early warning System( sistem peringatan dini) di titik titik pesisir pantai nya, yang mana pada alat tersebut dipasang sensor yang dapat mengindetifikasi gempa yang berpotensi menimbulkan pasang tsunami.
Secara garis besar Early warning system ini berkerja di awali oleh informasi yang di sampaikan oleh BMKG tentang adanya gempa berkekuatan tinggi tentang adanya gempa dengan besar kekuatan dalam skala Richter, waktu kejadian sampai satuan detik, lokasi dan kedalaman pusat gempa, serta berpotensi atau tidaknya mendatangkan bencana tsunami, dan kemudian akan dikonfirmasi oleh kedua institusi selanjutnya. Secara sederhana bisa disampaikan, apabila terjadi lagi gempa dengan kekuatan dan lokasi sumber gempa seperti di Aceh dan Pangandaran yang menyebabkan Tsunami, maka masyarakat dalam waktu 5 menit bisa diperingatkan dan masih ada selisih waktu kurang lebih 30 s/d 40 menit untuk bisa menyelamatkan diri. Hal ini memungkinkan karena waktu tempuh yang diperlukan oleh Gelombang pertama tsunami mencapai daratan yang rata-rata berjarak 250 km adalah antara kurang lebih 35 s/d 45 menit. Dengan kondisi ini, diharapkan dampak dari tsunami bisa diminimalisir khususnya korban jiwa yang sangat tidak diinginkan. System ini berkerja dengan dipasangnya alat bernama Tsunameter atau tsunami-Buoy yang dipasang terapung ditengah lautan yang rawan gempa lautnya dan sebuah sistem pemantau (Tide-Gauge) juga dipasang di pesisir untuk memantau tinggi rendahnya air laut, dan kemudian di integrasikan pada sistem peringatan langsung ke masyarakat sekitar berupa sirine yang akan meraung raung saat tsunami akan terjadi.
Sistem tersebut diakui bisa menjadi penolong bagi masyarakat pesisir agar bisa lebih prepare dan tanggap agar tak terjadi korban jiwa seperti gempa Aceh beberapa tahun silam.
-----

0 komentar: